Beberapa tips cara membedakan burung kenari jantan dan betina:
Postur tubuh jantan lebih sedikit besar jika dibandingkan dengan betina.
Setelah menetas sekitar usia 3-4 hari bisa dilihat terdapat sejenis saluran mulai dari perut menuju sekitar dubur dan tidak pada betina.
Pada bagian kepala, setelah menetas dan mata sudah melek yaitu sekitar 1 mingguan, maka bisa dilihat posisi mata akan sejajar simetris dengan paruhnya dengan bentuk kepala lebih ramping dan biasanya posisi mata agak naik dengan bentuk kepala lebih bulat.
Perhatikan, jika anakan kenari sudah menjelang besar (sekita 2-3 mingguan) maka yang berkelamin jantan lompatannya akan lebih jauh dibanding dengan betina.
Bagi yang sudah faham biasanya akan lebih jeli dan tahu dari segi panjangnya tatakan kaki, lebih panjang-panjang maka kemungkinan besar itu adalah kenari jantan.

ekitar sepuluh harian ngerawat trotolan Anis Kembang setelah pas kebetulan tiba waktunya sholat Ashar dan seperti biasa dari pada sholat di Musholla di tempat bekerja yang kebetulan ukurannya sangat kecil dan lokasinya di basement 2, artinya harus turun 2 tangga lagi untuk menuju musholla tersebut dari lantai dasar, sementara gedung bertingkat dimana tempat saya nguli hingga 46 lantai lebih, saya pikir lebih baik sholat di masjid yang agak luasan ah walaupun harus jalan agak jauhan sedikit sekitar 200-250 meter dari gedung.

BACA JUGA : Cara Merawat Anis Kembang Agar Cepat Gacor

Selesai sholat Ashar dilanjutkan duduk-duduk santai sejenak di teras masjid, sepintas dari balik parkiran di sekitaran masjid tersebut kedengeran keriwikan burung yang sepertinya kondisinya masih bahan kemudian saya samperin (lihatin) ternyata burung Anis Kembang yang masih trotolan dan ternyat oleh si pemiliknya katanya mau dijual, dan lanmgsung saja saya juga berminat dan memang sedang nyari Anis Kembang, lagi pingin coba ngerawat burung tersebut dan harga yang ditawarkannya pun sangatlah di luar dugaan, sangat murah sekali dan langsung saja tidak pikir panjang dan tanpa menanyakan jenis kelamin si AK tersebut laki atau perempuan, “pokonya yang namanya AK harga segitu mah sangat murah sekali”, kata saya. Kondisi sudah makan voer total lagi.

Tidak lama kemudian saya rawat sekitar sepuluh hari sepertinya kurang begitu sabar ngerawat burung masih kondisi trotolan karena terbentur dengan rutinitas harian (nguli) yang setiap hari harus berangkat pagi dan pulang sore dan paling sempat ngerwat yang bener-bener pada saat libur kerja, hari Sabtu atau Ahad, itu juga kalau anak-anak dan istri tidak ngajak keluar rumah alias jalan-jalan, hehehe… padahal sebenarnya kondisi burung sudah rajin, voer total, jinak dan sudah mulai tumbuh bulu mudah setelah trotol, tapi apa boleh buat dan seketika itu langsung saja posting di Facebook (FB). Tidak lama posting, langsung di serbu para member beberapa grup di FB yang komen dan menanyakan AK yang saya posting tersebut, karen harga yang saya posting juga ternyata masih di bawah harga normal Anis Kembang saat ini.

Beberarapa member ada yang terlebiuh dahulu menanyakan jenis kelaminnya, ada juga seperti biasa yang menanyakan speknya (kondisi fisik, sudah makan voer atau belum, ada minusnya apa tidak, jinak ataukah masih nggerabak dan lain sebagainya), dan tidak sedikit juga yang tanpa nawar ingin langsung di bayarin sebegaimana saya pernah posting burung Robin yang sama sekali tidak ditawar sama pembeli yang liat postingan saya di FB tersebut karena kebetulan harga saat posting Robin hanya Rp 425 ribu dengan kondisi masih muda dan jinak. Demikian juga AK yang saya posting ini, karena saya hanya posting dengan harga yang sama yaitu Rp 425 ribu, ada yang ingin langsung membayar namun dikarenakan tinggalnya kejauhan maka sepertinya tidak memungkinkan untuk melanjutkan transaksi tersebut, dan sambil menjawab banyak yang komen lain, pe,beli dari tempat lain sepertinya langsung meluncur taku keduluan sama yang lain dan akhirnya Sold Out oleh salah seorang member grup komunitas salah satu burung di Jakarta ini. Apalagi saya informasikan juga bahwa setelah beberapa yang sempat bertanya melalui WA dan request gambar dari segala penjuru dan setelah saya kirim gambar si penanya memberikan opini bahwa AK milik saya tersebut jantan.

San berapa sih sebenarnya harga Anis Kembang ? eeeeeh… ternyata setelah saya baca di internet harga kondis masih bahan saja sekitar Rp 600 – 800 ribuan, ooooh pantas saja postingan saya langsung diserbu para fesbooker, tapi tak apalah namanya juga pengalaman.

Cara Merawat Burung Cendet agar Cepat Ngevur – Ala Bang Idin. Tidak mudah memang memproses burung bahan hasil tangkapan hutan yang kita beli dari pasar burung (bukan ternakan) agar bisa mau makan voer dengan segera. Banyak panduan dan saran yang sering kami baca di beberapa sumber di internet, agar tetap sabar dan tidak terburu-buru dalam memproses burung rawatnnya jika memang belum mau makan voer, kendati mungkin waktu yang telah dilakukan dalam merawat burung yang kita miliki tersebut sudah bisa dibilang lumayan lama, bisa jadi 10 hari, setengah bulan, sebulan bahkan ada yang lebih dari sebulan menurut cerita salah satu kawan yang sempat merawat burung cendet/Pentet/Plentet miliknya dengan sangat sabar hingga burung bisa makan voer.

Sehabis sholat Ashar di masjid deket tempat kerja, bertemu dengan tukang parkir mobil dan motor di sekitaran masjid, karena memang DKM masjid dimana tempat kami sholat saat istirahat (Dzuhur) ataupun saat waktu Ashar oleh DKM dimemanfaatkan halaman masjid tersebut sebagai halaman parkir untuk para karyawan gedung perkantoran di sekitar masjid.

Berbagi pengalaman dengan beliau karena kebetulan beliau juga penghobi burung, sebut saja Bang Idin, menurut bang Idin kalo kepingin Cendet cepet ngevoer jangan langsung pake voer yang ukuran besar seperti maaf Topsong besar tetapi kata beliau harus memakai voer yang kecil bahkan yang lembut terlebih dahulu untuk memproses agar burung bisa bertahap mau makan voer. Bahkan pengalaman beliau pernah memproses burung hanya dalam waktu satu hari, pagi beli burung, sore sudah mau makan voer.

Berikut Tips Agar Burung Cepat Makan Voer menurut Bang Idin adalah sebagai berikut:

1.Langakah pertama berikan makanan alami untuk burung seperti jangkrik dipotongin kakinya kemudian masukkan ke cepuk makan pada pagi dan sore hari. Jadi pagi 10 ekor sore 10 ekor. Campurkan juga ulat hongkong (UH) 1 sendok the dan kroto juga 1 sendok the.

2.Di hari kedua, dengan porsi yang sama sebagaimana pada langkah pertama ditambahkan voer ayam sedikit saja.

3. Hari ketiga, kurangin jangkrik menjadi cukup 8 ekor saja dengan porsi ulat dan kroto masih sama dan voer ditambah sedikit lagi. Buat agar voer menutupi jangkrik dan UH serta krotonya.

4.Hari keempat dan seterusnya prosesnya hapir sama hingga hari ke tujuh jangkrik hingga menjadi tinggal 4 ekor dan UH cukup 5 ekor saja dan kroto setengah sendok saja, maka kata bang Idin proses itu bisa lebih cepat membuat burng Cendet bahan bis asegera ngevoer. Artinya berarti hanya dengan waktu seminggu burung bahan yang dibeli dari ombyokan sudah mau makan voer.

GELARAN yang dikemas Atlantic Birds Competition bersama Bonafide Indonesia Community (BIC) di Parung Bogor, Sabtu (21/4/2018) menjadi gelaran perdana dengan menggunakan penilaian sitem aplikasi lewat Juri Kicau. Juara umum diraih Kancut BC dan R 69 SF sebagai juara perorangan. Simak Daftar Juara Lengkap di bawah :

 

Memperingati hari Kartini, gantangan Comos LBK Arjowinangun – Malang menggelar lomba bertajuk Kartini Cup. Sekitar 989 peserta meramaikan gelaran yang sempat diguyur hujan deras di tengah even berlangsung. Kendati hujan deras mengguyur lokasi lomba, semangat kicaumania meramaikan gelaran ini tidak surut. Berikut daftar juara Kartini Cup – Malang, Minggu (22/4/2018)

Sepulang dari perjalanan pulang kampung (mudik) dengan tujuan utama adalah silaturrahmi dengan orang tua dan saudara-saudara yang berada di kampung halaman tempat asal kelahiran yang alhamdulillah sempat beberapa hari lumayan bisa menjadi penyegaran kembali (refresh) dari suasana kesibukan setiap hari di kota besar Jakarta yang tidak lepas dari hiruk-pikuk Jakarta terutama terkait kemacetan yang terjadi hampir di seluruh kawasan kota Jakarta.

Sebelum pulang mudik, segala sesuatunya sudah disiapkan sedemikian rupa sehingga persiapan makan dan minum untuk burung sekitar 10 harian bisa tercukupi. Dan Alhmdulillah sesampai di rumah Jakarta kondisi beberapa burung yang kami miliki masih tetap dalam keadaan sehat dan tetap kelihatan bugar, namun yang jadi pertanyaan saya dari beberapa burung yang sepertinya tidak mengalami masalah selama ditinggal pulang kampung, seperti Pleci, Kacer, Cipow, Pentet, dan ada beberapa burung kebon lainnya yang tetap “eksis” seperti Trocokan, tetapi untuk tledekan ko sama sekali tidak mau bunyi selama hampir seminggu, padahal kondisi burung terlihat sehat dan makan juga tetap doyan seperti hari-hari biasanya.

Tafsiran saya, memang selama ditinggal pulkamp secara otomastis makan hanya berupa voer saja dan hanya di awal hari menjelang ditinggal pulkamp saja yang diberikan EF, baik ulat hongkong (UH) maupun jangkrik dengan jumlah yang lumayan banyak, tetapi itu juga paling cukup untuk dimakan dalam 1 sampai 2 hari saja. hal itulah kemungkinan besar yang mengakibatkan burung malas bunyi.

Setelah mengetahui hal itu, segera kami usahakan agar burung kembali lagi mengeluarkan kicauanyya seperti sedia kala, dengan memberikan EF berupa jangkrik kecil, kroto dan UH setiap hari tentunya dengan porsi yang cukup, alhamdulillah burung kembali lagi menyuarakan sulingannya sesekali diselingi dengan variasa suara lainnya. Dan tentunya dirawat kembali secara normal sebagaimana biasanya seperti memandikan, mencuci tempat minum dan juga kandang serta menjemurnya.

Jika pada kesempatan sebelumnya kami pernah memuat artikel tentang pleci yang memang terkadang sangat tidak terduga harganya dan terkadang bisa menjadikan rejeki lebih bagi pemiliknya… heheh, yang kisahnya bisa juga dibaca disini.

Atau barangkali berminat bisa baca Pleci Pembawa Untung

Beberapa jenis Pleci yang sedang boom saat ini diantara :

1. Pleci Muria Mata Putih

Tidak asing lagi bagi para pecinta pleci (pleci mania) untuk saat ini pasti sudah faham dengan jenis pleci yang satu ini, dengan suara yang keras, bening, kristal nan mantab, pawakan gagah dan menantang sehingga wajar saja jika pleci ini untuk saat ini banyak dicari para kicau mania untuk berusaha memilikinya, dan memang sudah banyak diceritakan di berbagai media dalam beberapa perlombaan pleci yang berasal dari pegunungan Muria (Kudus) inilah yang sering menjadi juaranya.

Jika selama ini pleci yang paling terkenal adala jenis Pleci Muria yang memang memiliki suara yang dijamin mantab dan memiliki daya tarung yang sangat tangguh sehingga sangat wajar jika pleci jenis ini dengan kondisi yang sudah rajin sekalipun usia belum mapan banget harganya sudah dibandrol 1 jutaan keatas.

2. Pleci Buxtoni

Pleci jenis ini memiliki suara yang nyaring dan melengking, kristal, hampir sama seperti pleci dada kuning. Ukurannya juga hampir sama dan cenderung bulat.

3. Pleci Kacial Bali / Lombok

Burung pleci jenis memiliki ukuran lebih besar dari ukuran jenis pleci lainnya, namun kelemahannya ocehannya terlalu monoton dan untuk menunggu hingga suaranya bisa ngeplong dan ngeriwik membutuhkan waktu yang lumayan lama dan butuh kesabaran

4. Pleci Montanus

Pleci jenis ini memiliki suara kicauan yang kasar, dengan cirri fisik warna dada abu-abu dan punggungnya kuning kehijauan. Ukuran lebih besar dari pada pleci dada kuning..

5. Pleci Laut

Pleci yang ini pada kondisi belum jinak dan jika ditempatkan di sekitar keramaian banyak orang sekalipun, tetap ngoceh dan tak gentar dengan kodinsi sekelilingnya. Dengan suara yang lumayan keras dan ngebas, mungkin pada masa mendatang bisa menjadi pleci andalan, namun pada saat ini belum banyak orang mengetahui akan kondis dan kualitas pelci ini sebagaiamana pleci jenis Muria bebera saat lalu. Dan pada saat ini sedang menjadi andalan.

  1. Pleci Black Capped/Cap

Suara pleci black capped terkesan lebih pelan dan tidak terdengar jika ditempatkan dalam forum koloni. Sesuai dengan namanya, pleci black capped memiliki ciri warna hitam sebagian kepalanya. Warna dadanya abu-abu dan punggungnya kuning kehijauan.

  1. Pleci Salvadori Enggano

Pleci jenis ini habitatnya di Pulau Sumatera dan memiliki suara kicauan yang keras dan lantang seperti pleci auriventer. Hanya saja ukurannya lebih besar dan bulat dengan iris mata berwarna coklat. Di kepalanya terdapat warna hitam tipis dan warna dadanya abu-abu gelap serta warna kuning tipis.

  1. Pleci Auriventer

Jenis Pleci ini memang memiliki harga yang cukup lumayan, suara kicauan yang mendayu-dayu dan ngebass sehingga tidak sedikit pula bagi sang pemiliknya sering burung ini diturunkan dalam beberapa kelas koloni ataupun dalam perlombaan.

  1. Pleci Dada Kuning Mata Coklat (Dakun Macok)

Pleci jenis ini banyak kita temui di berbagai pasar burung. Di Pulau Jawa, pleci ini dijual secara ombyokan jika kita mengunjungi pasar-pasar burung. Suaranya nyaring dan kristal dengan postur yang kecil dan matanya coklat. Bagian dada berwarna kuning dan punggungnya kuning kehijauan.

Dan yang pasti, mungkin masih ada burung Pleci jenis lainnya yang kita tidak tahu keberadaannya dan bagaimana kualitasnya.

Sudah selayaknya makhluk hidup pastilah secara rutin akan melakukan kebersihan badan dalam hal ini mandi, entah setiap hari, setiap saat, setiap ada kesempatan atau kapanpun dia mau melakukannya tentunya dengan cara mereka masing-masing. Pada kesempatan ini yang akan kita bahas adalah tentang memandikan burung.

Bagi burung rawatan, ada beberapa cara yang dilakukan oleh si pemiliknya dalam melakukan ritual membersihkan badan burung miliknya tersebut, diantaranya ada yang dengan menaruh cepuk ukuran besar ke dalam kandang agar burung mau mandi sendiri, ada yang cukup dengan menyemprot dengan kekuatan semprotan yang relatif soft tentunya, ada juga karena terbentur waktu terkadang cukup disediakan bersamaan dengan air minum yang sekaligus bisa diperuntukkan buat mandi dan ini yang paling sering kita jumpai, dan ada juga yang karena waktunya sempat maka memandikan burung rawatannya dengan cara memindahkan burung rawatannya tersebut ke dalam keramba khusus buat mandi agar burung lebih leluasa dan lebih alami yaitu dengan cara menempelkan kandang rawatan harian dengan keramba mandi dengan posisi pintu sejajar setelah posisi terlihat pas tinggal membuka pintu kedua kandang tersebut setelah burung masuk ke keramba mandi pintu di tutup semula. Memang caryang terkahir ini sangat banyak manfaatnya, sambil menunggu burung mandi, karena kondisi kandang harian kosong makan si pemilik burung yang memandikannya dengan menggunakan keramba mandi biasanya sekalian membersihkan kandang burung rawatannya trersebut tanda ada beban burung akan terganggu karena kandang sedang dibersihkan ataupun tidak khawatir burung akan lepas karena kandang dibolak-balik karena memang sedang dibersihkan.

Sesuai dengan judul di atas, sebenarnya apa sih manfaat memandikan burung ? Ada beberapa pendapat yang kami rangkum tentang manfaat memandikan burung, antara lain:

1. Yang paling masyhur adalah untuk menjadikan agar burung semakin sering kita mandikan akan semakin jinak, sehingga dalam kondisi burung yang sudah jinak mudah untuk disetting untuk memasternya dan tentunya secara fisik burung dalam kondisi jinak biasanya bulu-bulunya terlihat rapi dan beraturan, namun lain dengan burung yang masih nggerabak biasanya bulu-bulunya akan berantakan sehingga kurang enak dipandang dan hanya akan rapi bulu-bulunya jika tidak ada orang di sekitarnya.

2. Tentunya jika burung sering dimandikan pastilah akan terlihat bersih dan tidak kusam, sehingga oleh si burung sendiri akan merasakan kesegaran (fresh) setelah selesai mandi sendiri ataupun dimandikan. Tidak bedanya dengan kita manusia juga demikian, sekalipun pada saat kita akan mandi terkadang kita malas-malasan namun setelah selesai mandi badan akan terasa segar dan enak. Nah ketika burung dalam kondisi fresh maka disitulah burung akan mengeluarkan nada indahnya berupa kicauan-kicauan merdu yang tentunya kita sebagai pemilik ketika mendengarkan kicauan tersebut akan menikmatinya sebagai hiburan dan kesenangan yang memang kita harapkan; dan yang ke

3. Jika burung terdapat kutu karena berbagai faktor yang menyebabkan hingga burung menjadi kutuan, maka mandi sangat dianjurkan untuk menghilangkan kutu-kutu yang bersarang pada burung tersebut.

Dari 3 penjelasan di atas, hal yang paling penting yang sangat perlu dilakukan setelah memandikan burung adalah dengan menjemurnya agar kondisi burung benar-benar kering seperti sedia kala.

Dan adapun kapan waktu yang tepat untuk memandikan burung ataupun memberikan cepuk ke dalam kandang burung untuk mandi, menurut salah seorang kicau mania asal Tanah Abang Jakarta Pusat adalah pada siang hari dengan alasan, ketika di habitatnya sangat jarang kita lihat burung mandi pada pagi hari sekitar jam 7-an ataupun pada sore hari pada sekitar jam 5-an sebagaimana yang sering kita baca di artikel yang membahas tentang perawatan burung, tetapi yang ada yang sering kita jumpai adalah burung justru menyeburkan diri ke air atau di kali pada siang hari, itulah alasan kenapa memandikan burung yang tepat adalah pada waktu siang hari.
Namun ada juga pendapat lain yang paling banyak dan sering kita dengan sebagaimana yang dituliskan pada paragraf sebelumnya, memandikan burung yang tepat adalah padi pagi dan sore hari dan ada sebagian kicau mania yang memandikan burung pada malam hari dengan alasan agar burung bisa cepat rajin.

Itulah beberapa pendapat tentang manfaat mandi dan kapan waktu yang tepat memandikan burung.

Bagi Kicau Mania terutama untuk kelas tledekan, keindahan dan keunikan burung peliharaan dengan kondisi jinak dan gacor pasti akan memberikan nuansa tersendiri bagi pemiliknya.

Tidak terlalu penting memang, tetapi suatu kebanggaan jika pada saat “Ngejepret” burung Tledekan rawatan kita dengan posisi yang pas unik yang jarang bisa pas mendapatkan gambar-gambar yang bagus, tentu saja karena tledekan bukanlah termasuk jenis burung pentas sebagaimana, Nuri, Lovebird, Kakak Tua, Parkit, dan burung-burung pentas lainnya.

Dan apabila kita bisa memfoto burung milik kita pas sedang posisi yang unik, sangatlah menyenangkan, seperti gambar-gambar Tledekan berikut yang saya dapet dari postingan salah seorang Tledekan mania di

Di pertengahan tahun 2015 burung ini sangat terkenal dan ramai para kicau mania yang merawat burung kecil ini. Setelah agak redup sekian lama dengan alasan beberapa kawan karena susah perawatannya. Saat ini sepertinya akan mulai ramai kembali burung yang terkenal dengan makan sambil terbang ini.

Dan berikut Cara Merawat Kolibri Ninja (Konin) agar Rajin Bunyi, Sehat dan Cepat Gacor adalah sebagai berikut:

Pada pagi hari setelah subuh, keluarkan burung dengan tujuan diembunkan hingga keluar sinar matahari menghangatkan tubuhnya.

Setelah itu, sekitar pukul 7 mandikan burung Kolibri dengan semprot/sprey atau bisa juga dengan cepuk mandi. Selesai mandi gantung di teras dan diangin-anginkan selama + 15 menit
Setelah diangin-anginkan, jemur kira-kira 1-2 jam, selesai dijemur angkat kembali Kolibri dan taruh ditempat yang teduh atau teras, berikan makanan berupa kroto, dan sediakan air gula dengan takaran 50 banding 50 pada cepuk ukuran kecil sebagai pengganti madu, karena kondisi madu biasanya kental dan kurang disukai burung, berdasarkan pengalaman pribadi saya waktu punya kolibri, burung lebih memilih air gula namun jangan lupa tetap sdiakan air putihnya.
Dan selanjutnya burung dimaster dengan suara burung lain sesuai selera.

Makanan Untuk Kolibri Ninja

Faktor utama yang sangat penting dalam perawatan Konin adalah terkait makanan. Kolibri Ninja sekalipun sering kita lihat habitatnya lebih banyak di pepohonan namun sekalipun demikian bukan termasuk burung pemakan buah-buahan dan hanya memakan sari bunga/sari madu (nektar) pada bunga yang berada di pepohonan yang ada dan juga serangga berukuran kecil.

Banyak para pakar mengatakan tidaklah mudah merawat Kolibri Ninja dan sejenisnya dengan alasan diatas, namun dengan cara memberikan dan menggantikan serangga ukuran kecil dengan ulat kandang / ulat kandang ataupun dengan kroto disertai dengan nectar yang bisa kita buat sendiri.

Ada cara dan usulan dari kawan yang berhasil merawat hingga menjadi burung yang memiliki prestasi yaitu dengan cara pergantian pemberian makanan yang harus di selang seling kata beliau yang sering disapa dengan Om Agus. Menurut Om Agus, proses pergantian pemberian makanan untuk Konin adalah, 2 hari nextar, 2 hari lagi madu, 2 hari susu, 2 hari air gula dan diselingi kroto, karena menurut beliau jika hanya diberikan diberikan air gula saja burung akan terlihat lemes dan kurang bertenaga, itulah alasan mengapa harus diberikan makanan berupa cairan ini secara bergantian.